75ed170b76bce0279d26b5ef0090fff8๐ Sibuk Mencela, Lupa Memperbaiki Diri
Salah satu kebiasaan buruk yang sering menjangkiti jiwa manusia adalah terlalu mudah mencela dan menilai orang lain, padahal dirinya sendiri jauh dari sempurna. Dalam kalimat singkat namun sarat makna, Ibnu Hazm rahimahullah menasihati kita:
"Waspadalah dari mencela seseorang baik saat ada orangnya atau saat tidak ada orangnya. Cukuplah engkau sibuk memperbaiki dirimu sendiri."
๐ (Al Akhlak wa Siyar, hlm: 78)
Kalimat ini menjadi tamparan lembut bagi siapa pun yang terlalu fokus mengamati kesalahan orang lain. Terlalu semangat mencari cela dan aib, hingga lupa bahwa dirinya pun tak luput dari kekurangan dan dosa.
๐ Mencela saat orangnya hadir, bisa menyakitkan dan menimbulkan permusuhan. Sementara mencela saat orangnya tidak ada, termasuk perbuatan ghibah yang diharamkan. Keduanya adalah bentuk penyakit hati yang timbul dari kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain.
Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka..."
๐ (QS. Al-Hujurat: 11)
Sering kali, celaan lahir dari hati yang lalai. Seseorang merasa "puas" saat membicarakan kekurangan orang lain, seolah itu membuat dirinya tampak lebih baik. Padahal, mengejek orang lain tidak akan mengangkat derajat kita. Justru akan mencoreng amal dan mengurangi pahala.
Yang lebih tragis, ketika seseorang sibuk memikirkan kesalahan orang, ia pun lupa dengan kesalahan dirinya. Ia tak sempat mengevaluasi niat, memperbaiki akhlak, atau menata amalnya. Hari-harinya habis hanya untuk mengamati hidup orang, bukan memperbaiki hidupnya sendiri.
Padahal, siapa pun yang mengaku ingin menjadi lebih baik, semestinya menundukkan pandangan dari aib orang lain dan mengarahkan hati untuk introspeksi. Karena setiap kita akan berdiri sendiri di hadapan Allah, mempertanggungjawabkan diri sendiri, bukan orang lain.
๐ Kesibukan memperbaiki diri adalah pekerjaan sepanjang hayat. Tidak ada waktu luang untuk mencela orang lain, karena memperbaiki diri saja sudah cukup menyita waktu, tenaga, dan doa.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
โBeruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga ia tidak sempat memikirkan aib orang lain.โ
๐ (HR. Al-Bazzar)
Maka dari itu, mari kita latih diri untuk lebih diam dan merenung. Jika kita melihat keburukan orang lain, jadikan itu sebagai pengingat agar kita tidak melakukan hal yang sama. Dan bila kita melihat kebaikan orang lain, maka tirulah.
๐ Ingatlah, setiap celaan yang kita lontarkan bisa menjadi bumerang di akhirat, kecuali jika memang kita menasihati dengan ikhlas dan cara yang baik. Tapi bila hanya ingin melampiaskan kedengkian atau ego, maka kita hanya sedang menumpuk dosa.
Cukuplah kesibukan memperbaiki diri menjadi pekerjaan utama kita. Karena hakikatnya, perjuangan memperbaiki diri adalah tanda keimanan dan bentuk rendah hati di hadapan Allah.
Wallahu A'lam Bishawab