e3f7def1ac479e88527e0c34ed74b392 Kajian Tematik oleh Ustadz Rohibun Ahmad حفظه الله تعالى Selasa pekan ke-4 ba'da Maghrib, 11 Robi'ul Awwal 1445 H / 26 september 2023 m di Masjid Ash Shiddiq "Kiat memperoleh Keturunan yang Sholikh" Alloh تعالى memberi nikmat kepada kita dengan tidak meminta kembali nikmat yang diberikan kepada kita atau mengganti nya karena Alloh تعالى Maha Mengetahui bahwa hamba Nya tidak akan mampu mengembalikan nya. Tetapi Alloh تعالى hanya meminta sederhana yakni menjadi hamba yang bersyukur, dan syukur yang kita lakukan tidak berpengaruh kepada Alloh sama sekali karena Alloh تعالى Maha Mulia, atau sebaliknya kita menjadi hamba yang kufur juga tidak ada pengaruh nya pada Alloh, Alloh tetap maha mulia lagi Maha Agung. Syukur dan kufur yang dilakukan manusia kembali kepada manusia masing-masing. Sesuai dengan QS Ibrohim : 7,
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَٮِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَٮِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِىْ لَشَدِيْدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Sebaiknya baik nya hamba yang beriman adalah orang yang mampu bersyukur kepada Alloh, dan jumlah orang dapat bersyukur ini sedikit. Diantara nikmat yang nampak dan besar yang patut disyukuri adalah Alloh memberikan keturunan kepada kita bagi yang sudah menikah. Rosululloh menjelaskan bahwa anak adalah hasil usaha orang tua, maka kewajiban kita untuk bersyukur kepada Alloh. Bagaimana caranya? Hendaklah kita mengamalkan firman Alloh تعالى dalam QS At-Tahrim : 6
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Keinginan semua manusia adalah ingin supaya keturunan kita berkumpul kembali di Surga kelak. Sesuai dengan QS Ar-Ro'd : 23,
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤٮِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤٮِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ
(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; Untuk mencapai hal ini kita sebagai orang tua untuk mendapatkan anak yang menjadi keturunan yang menyejukkan pandangan mata yakni dengan melakukan beberapa hal diantara nya :
1. Hendaklah selalu berdo'a kepada Alloh تعالى agar mendapatkan keturunan yang sholikh. Karena kesholikhan ini tidak mungkin di dapat kecuali dengan taufiq dan petunjuk Alloh تعالى. Terhadap petunjuk Alloh agar diberikan anak yang sholikh kecuali dengan do'a. Jangan merasa sombong dengan meninggalkan do'a. Alloh تعالى menyebutkan beberapa keturunan sholikh diantara orang terdahulu agar Alloh memberikan keturunan yang sholikh. Dalam do'a Nabi Ibrohim عليه سلم yakni do'a dalam QS As Shoffat : 100,
رَبِّ هَبْ لِىْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Padahal beliau seorang Nabi tetap minta keturunan yang sholikh.
Lalu Nabi Zakaria عليه سلم yang juga berdo'a agar diberikan anak yang sholikh dalam QS Ali 'Imron : 38,
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗۚقَالَ رَبِّ هَبْ لِىْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚاِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ
Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". Hal ini memberikan contoh kepada kita agar meminta anak/keturunan yang sholikh dan sholikhah.
Dalam QS Maryam : 4
قَالَ رَبِّ اِنِّىْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّىْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْ بِۢدُعَاۤٮِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا
Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Yang bercerita tentang Nabi Zakaria عليه سلم yang disebutkan tentang rahmat Alloh تعالى kepada hamba nya yakni Zakaria عليه سلم.
Demikian Alloh تعالى memuji Ibadurrokhman yang ingin diberikan keturunan yang sholikh yang menenangkan hati nya, dalam QS Al Furqon : 74,
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Do'a orang tua adalah do'a yang dikabulkan oleh Alloh تعالى, maka berdo'a lah yang baik untuk memiliki keturunan yang sholikh.
Jangan sampai sebagai orang tua memiliki keinginan yang menghayal yakni dengan melakukan ritual membaca suroh Yusuf ketika usia kehamilan sekian hari. Padahal itu mustahil dan menghayal karena itu adalah mukjizat Nabi Yusuf.
Abdulloh bin salam رضي الله عنه, tokoh Yahudi yang masuk Islam setelah bertanya dengan mengajukan 3 pertanyaan kepada Nabi, diantara pertanyaan nya adalah "kenapa terjadi kemiripan antara anak dan orang tua yakni ketika air mani keluar dari bapak nya dulu maka mirip dengan bapak nya, begitu pula sebaliknya jika yang keluar dahulu ibu nya maka akan mirip ibu nya". Jadi minta lah dijadikan keturunan yang sholikh bukan permintaan yang khayal/mustahil. Jika ingin anak seperti Nabi Yusuf عليه سلم maka ikutilah Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم karena Nabi mengatakan bahwa kelak umat Nabi di Surga wajah nya seperti Yusuf عليه سلم. Ibnu Hajar رضي الله عنه mengatakan ketika Isro’ Mikroj bertemu dengan Nabi Yusuf عليه سلم di langit ke tiga sehingga ini menjadi dasar bahwa kelak umat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم wajahnya akan serupa seperti Nabi Yusuf عليه سلم.
2. Orang tua harus jadi sholikh dulu. Jadi yang diperbaiki pertama adalah orang tua dulu. Menjadi teladan bagi anak-anak yakni agar dilihat dan cermin pertama apa yang dilakukan oleh orang tua. Imam Said Ibnu Musayyab رحمه الله mengatakan kepada anak nya, "sungguh aku menambah sholat ku karena sholat yang aku lakukan adalah sebagai teladan bagi mu (anak) sebagai contoh."
Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم ketika menginap di rumah Maimunah رضي الله عنها dan ketika melihat Nabi صلى الله عليه وسلم sholat dan wudhu sehingga Ibnu Abbas رضي الله عنه mengikuti nya mirip seperti Nabi.
Dalam QS Al Kahfi : 82,
وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًـاۚفَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِىْۗذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًاۗ٪
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". Kasih sayang Alloh kepada anak dari keturunan orang tua yang sholikh dengan mendapat rahmat dan berkah.
Imam bin Abdul Aziz رحمه الله mengatakan, tidak lah seorang mukmin meninggal kecuali Alloh تعالى menjaga anak nya dan keturunan nya.
PR bagi kita agar menjadi kan kita sholikh terdahulu agar memiliki keturunan yang sholikh.
3. Memberikan pendidikan kepada anak-anak kita. Sejak dini sehingga ketika sudah tumbuh besar mempunyai Ilmu yang baik. Sebagaimana dalam QS suroh At Tahrim ayat 6 di atas tadi. Diantara Ilmu yang diajarkan sebagaimana yang diajarkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم yakni ajari anak kita sholat sebagaimana dalam Hadits tentang perintah sholat kepada anak di usia 7 tahun dan perintah dengan pukulan mendidik ketika berusia 10 tahun.
Ada cerita orang yang tidak tersentuh ketika mendengarkan cerita, lalu Imam Muhammad bin Wasi' رحمه الله kenapa orang itu tidak tersentuh dengan apa yang diberikan kepada nya, Imam bin Wasi' رحمه الله mengatakan bahwa omongan itu dari hati ke hati.
Yang diajarkan selanjutnya yaitu adab makan, yaitu makan dengan tangan kanan. Ada kisah pada saat Nabi seseorang yang makan dengan tangan kiri nya (redaksi hadits sbb),
أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.
“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Dia malah menjawab, ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda, ‘Benarkah kamu tidak bisa?’ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2021)
Pada saat itu hukuman langsung di tegakkan terhadap orang tersebut karena sombong meremehkan Sunnah Nabi. Makan dan minum dengan tangan kiri adalah dosa besar karena pelaku nya disamakan dengan setan.
3 perkara yang harus diperhatikan ketika mendidik anak :
A. Menghadirkan keikhlasan dan berharap kepada Alloh saja. Contoh mengajar kepada anak-anak orang lain lebih serius sampai lebih perhatian karena ada tendensi mendapatkan upah sedang anak sendiri bisa jadi tidak demikian.
B. Memiliki Ilmu agama Islam, agar mengarahkan kepada perkara baik
C. Berikan teladan yang baik kepada mereka.
4. Bersabar dan murah hati. Karena kesabaran dan murah hari ini memberi kan pengaruh yang besar kepada anak kita. Bagaimana Nabi memberi pendidikan kepada sahabat yakni dengan sabar dan murah hati.
5. Lemah lembut.
6. Cinta dan kasih sayang. Abu Huroiroh رضي الله عنه bercerita saat Nabi mencium Al Hasan cucu beliau, lalu Al Akro' bin Habis رضي الله عنه mengatakan sesungguhnya aku mempunyai 10 anak tetapi aku tidak pernah mencium mereka, lalu Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan sesungguhnya siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang maka tidak akan memperoleh rahmat Alloh. Sedangkan realita zaman sekarang anak atau orang tua malu melakukan hal ini. Padahal Nabi melakukan demikian juga kepada putri nya Fatimah رضي الله عنها.
Anak dalam Al Qur'an menjadi 4 macam :
1. Anak jadi perhiasan
2. Anak jadi cobaan
3. Anak jadi musuh
4. Anak jadi Qurrota 'Ayyun
Sedikit faidah catatan kajian oleh Ustadz Rohibun Ahmad حفظه الله تعالى =======================================