596c7bd8e97289d3b9c8a9cc64b8a68b


Doa Keluar Rumah: Berlindung dari Kesesatan

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ


ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu



أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ

AN ADHILLA AU UDHALLA
Dari aku tersesat, atau aku menyesatkan



أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ

AU AZILLA AU UZALLA
Atau aku tergelincir, atau aku digelincirkan



أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

AU AZHLIMA AU UZHLAMA
Atau aku mendhalimi, atau aku didhalimi



أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

AU AJHALA AU YUJHALA ‘ALAYYA
Atau kebodohanku atau dibodohi



Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari: aku tersesat, atau aku disesatkan,
atau aku tergelincir, atau aku digelincirkan, atau aku mendhalimi, atau aku didhalimi,
atau kebodohanku atau dibodohi.”

(HR. Abu Dawud)

271de3ad2d70f89e51ff4c5c15d93f33


Ramadhan Waktu Perbaikan Diri

Di riwayatkan dari Abu Said Al-Khudry radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Taala memiliki hamba-hamba yang di merdekakan dari Api Neraka, pada setiap hari dan malam -yakni di bulan Ramadhan-, dan sesungguhnya setiap muslim memiliki doa yang mustajab pada setiap harinya"
[HR. Al-Bazzar, Shahih Targhib hadits 1002 bab puasa]

Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya bertabur keridhaan Allah dan pahala dari-Nya. Mudah bagi seorang untuk berbuat kebaikan dan berebut pahala di bulan ini, maka tepatlah bila bulan ini kita jadikan acuan perbaikan diri.

Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud Al-Atsary hafidzhahullah
generate by :Link

31185d336384554cd171b55e5eed0393


JAUHILAH SEBAB-SEBAB PEMICU KEMARAHAN!
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

عن أبي هريرة رضي الله عنه:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: «لَا تَغْضَبْ» فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ: «لَا تَغْضَبْ». 
[صحيح] - [رواه البخاري] - [صحيح البخاري: 6116]

Abu Hurairah -raḍiyallāhu `anhu- meriwayatkan,
Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda, "Janganlah engkau marah!" Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali, tetapi beliau tetap bersabda, "Janganlah engkau marah!" 
[Sahih] - [HR. Bukhari] - [Sahih Bukhari - 6116]

Uraian
Salah seorang sahabat -raḍiallāhu `anhum- meminta kepada Nabi ﷺ agar ditunjukkan pada sesuatu yang akan berguna baginya. Beliau lantas memerintahkannya agar tidak marah. Maksudnya adalah agar dia menjauhi sebab-sebab yang dapat memicu amarahnya serta mengendalikan diri ketika dihinggapi amarah, yaitu dia tidak boleh terbawa amarahnya sampai membunuh, memukul, mencaci atau lain sebagainya.
Laki-laki tersebut mengulang permintaannya beberapa kali, tetapi beliau ﷺ tidak memberikannya wasiat lebih dari mengatakan "janganlah engkau marah." 

Faidah dari Hadis
1- Peringatan terhadap marah dan sebab-sebabnya; karena marah mengumpulkan semua keburukan, sedangkan menjaga diri dari marah mengumpulkan semua kebaikan.
2- Marah karena Allah seperti marah ketika larangan Allah dilanggar termasuk marah yang terpuji.
3- Mengulang-ulang perkataan ketika dibutuhkan supaya orang yang mendengar paham dan mengetahui urgensinya.
4- Keutamaan meminta wasiat pada orang berilmu.


sumber: Link

c1231f777e6386a71b04197aa75f2868


PAKAILAH PENUTUP KEPALA KARENA IA KEBIASAAN ORANG SHALIH
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Syaikh Al-Albaniy rahimahullah berkata, "Tidak memakai tutup kepala bukan kebiasaan baik yang dikerjakan oleh para ulama salaf, baik ketika mereka berjalan di jalan maupun ketika memasuki tempat-tempat ibadah. Kebiasaan tidak memakai tutup kepala sebenarnya tradisi yang dikerjakan oleh orang-orang asing. Ide ini memang sengaja diselundupkan ke negara-negara muslim ketika mereka melancarkan kolonialisasi. Mereka mengerjakan kebiasaan buruk ini ; namun sayangnya malah diikuti oleh umat Islam. Mereka telah mengenyampingkan kepribadian dan tradisi keislaman mereka sendiri. Inilah sebenarnya pengaruh buruk yang dibungkus sangat halus yang tidak pantas untuk merusak tradisi umat islam dan juga tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk memperbolehkan shalat tanpa memakai tutup kepala.

Adapun argumentasi yang membolehkan membiarkan kepala tanpa tutup seperti yang dikemukakan oleh sebagian orang dari Jama’ah Anshorus Sunnah di Mesir adalah dengan mengkiaskannya kepada busana orang yang sedang memakai baju ihram ketika melaksanakan ibadah haji. Ini adalah usaha kias terburuk yang mereka lakukan. Bagaimana hal ini bisa terjadi, sedangkan tidak menutup kepala ketika ihram adalah syi’ar dalam agama dan termasuk dalam manasik, yang jelas tidak sama dengan aturan ibadah lainnya.

Seandainya kias yang mereka lakukan itu benar, pasti akan terbentur juga dengan pendapat yang mengatakan tentang kewajiban untuk membiarkan kepala agar tetap terbuka ketika ihram. Karena itu merupakan kewajiban dalam rangkaian ibadah haji. [Lihat Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah (hal. 164-165)].

Tidak pernah disebutkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak memakai tutup kepala ketika shalat kecuali hanya ketika ihram. Barangsiapa yang menyangka beliau pernah tidak memakai imamah ketika shalat -selain pada saat melakukan ihram-, maka dia harus bisa menunjukkan dalilnya. Yang benar itulah yang paling berhak untuk diikuti. [Lihat Ad-Dinul Khalish (3/214) dan Al-Ajwibah An-Nafi’ah an Al-Masa’il Al-Waqi’ah (hal.110)]


sumber: Link


027abca64ea3949e4b703c763dc6e18d


Artinya : Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam qadar.

2121a9a7a711d3a579bd176627abaac3


SEDANG LIBUR ATAU DI AKHIR PEKAN, YUK MANFAATKAN UNTUK SILATURAHIM

Ibnu Hajar dalam Al-Fath menjelaskan, “Silaturahim dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.”

Dari Abu Ayyub Al-Anshari, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik kepada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahim (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari, no. 5983)

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahim (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Abu Daud, no. 4902; Tirmidzi, no. 2511; dan Ibnu Majah, no. 4211, shahih)

Abdullah bin ’Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahim setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari, no. 5991)



Sumber Link

40ed73cbb73c9583a3db83c26e101fc8


TIDAK MENJELEK - JELEKKAN MAKANAN YANG TIDAK DISUKAI

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

‎مَا عَابَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sekali pun dan seandainya beliau menyukainya maka beliau memakannya dan bila tidak menyukainya beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari no. 5409)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang telah menjelek-jelekkan makanan yang ia tidak sukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 18/93)

Sumber Link

eec6070021fbb9968dba44f5e9e02d93


ANTARA TEMAN & KERABAT

Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

"Bisa jadi orang asing lebih bermanfaat bagi mayit daripada keluarganya sendiri. Dahulu sebagian orang shalih berkata: Adakah yang semisal teman yang baik. Keluargamu saling berebut warisanmu sedangkan dia menyendiri karena sedih ditinggal olehmu, dia mendoakanmu saat engkau di bawah tumpukan tanah"

(Majmu` Rasail Ibnu Rajab 2/423)

5d65cd0cbb6792754f038ef572d72783


▶️ SEDEKAH TIDAK MENGURANGI HARTA!

📡 Link Youtube:
Link

Secara perhitungan dunia kita mengetahui pada saat kita mengeluarkan uang untuk bersedekah berarti mengurangi harta yang kita miliki. Namun, hal ini bertolak belakang dengan perhitungan Allah.

Allah dan Rasul-Nya telah menjamin tidak akan berkurang harta orang yang bersedekah, terutama yang bersedekah di jalan Allah, bahkan mengundang keberkahan yang besar terhadap harta dan kehidupan seorang hamba.

Allah Ta’ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]:261)”.

Hilangkan sifat Bakhil dan kecintaan yang berlebihan terhadap harta yang ada di dalam diri kita, karena harta yang disedekahkan di jalan Allah tidak akan pernah hilang, bahkan tersimpan di langit dan kelak akan Allah berikan balasannya di dunia dan terutama di Akhirat.

Allahu Ta’ala A’lam bisshowab

51f9f9006136a26f622ee15e0f70fd02


Nazar Ibadah Pakai Syarat? Itu Sifat Pelit
🎙️ Ustadz Abu Aslam
🎥 Link

📝 Ustadz Abu Aslam menjelaskan bahwa orang yang baru mau bersedekah atau beribadah jika keinginannya dikabulkan (nazar bersyarat) adalah tanda orang bakhil/pelit. Beribadahlah kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala tanpa memberikan syarat.


cb1d034e16beca4d47e682748e4bca58


📖 Inilah Fungsi Punya Harta
Banyak manusia mendambakan harta. Mereka bekerja keras, berusaha siang dan malam, mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Namun, apa sebenarnya tujuan harta dalam pandangan Islam? Apakah sekadar untuk ditimbun? Atau dipamerkan? Atau dihambur-hamburkan dalam perkara sia-sia?

Sa'id bin Musayyib rahimahullah, memberikan nasihat yang sangat berharga:

"Tidak ada kebaikan pada harta seseorang yang tidak dia gunakan untuk menjaga kehormatannya, menyambung hubungan dengan kerabatnya, dan mencegahnya dari dosa-dosa."
📘 (Makarimul Akhlak, 136)

Kalimat ini menunjukkan bahwa harta adalah sarana, bukan tujuan. Harta yang diberkahi adalah harta yang digunakan untuk tiga hal penting:

1. Menjaga Kehormatan
Harta digunakan untuk menjaga kehormatan diri dari kehinaan meminta-minta, dari ketergantungan kepada makhluk, dan dari perbuatan yang merendahkan martabat. Dengan harta, seseorang bisa hidup terhormat, mandiri, dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."
📘 (HR. Bukhari dan Muslim)

Tangan di atas adalah tangan yang memberi, bukan meminta. Inilah kehormatan yang dijaga dengan harta.

2. Menyambung Hubungan dengan Kerabat
Harta juga berfungsi untuk menyambung silaturahmi. Memberi hadiah, membantu keluarga yang membutuhkan, membayar hutang saudara, atau sekadar mempererat hubungan dengan bantuan dan perhatian. Allah memerintahkan:

"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (nama-Nya) kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi."
📖 (QS. An-Nisa: 1)

Orang yang menggunakan hartanya untuk keluarganya, mempererat tali persaudaraan, maka hartanya menjadi wasilah kebaikan yang besar.

3. Mencegah Dosa
Harta juga menjadi benteng dari perbuatan dosa. Misalnya, seseorang yang memiliki harta bisa menikah dan menjaga dirinya dari perzinaan. Dengan harta, ia bisa menunaikan kewajiban, membayar zakat, bersedekah, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Sebaliknya, orang yang tidak menggunakan hartanya dalam jalan ketaatan justru bisa tergelincir dalam dosa: pelit, tamak, sombong, berfoya-foya dalam maksiat, atau terjebak dalam dunia yang melalaikan.

📌 Jadi, bukan banyaknya harta yang menjadi ukuran kemuliaan, tetapi bagaimana ia digunakan. Sebagaimana perkataan mulia dari Sa'id bin Musayyib ini, harta itu tidak berguna jika tidak dipakai untuk tiga fungsi mulia tersebut.

Maka, setiap kita yang Allah beri kelapangan rezeki, hendaknya selalu bertanya pada diri sendiri:

Apakah hartaku sudah membuatku lebih terhormat di sisi Allah?

Apakah hartaku mempererat hubunganku dengan keluarga dan saudara-saudaraku?

Apakah hartaku membantuku untuk menjauh dari dosa dan mendekatkan diri kepada Allah?

Jika jawabannya iya, maka bersyukurlah. Namun jika belum, maka segeralah perbaiki arah penggunaan harta kita, sebelum harta itu menjadi fitnah yang memberatkan hisab kita kelak di akhirat.

Wallahu A'lam Bishawab

fff29e85c6afdacb699ec2612b445e42


Agama Mewarnai, Bukan Merubah
🎙️ Ustadz Subhan Bawazier
🎥 Link

📝 Agama Islam tidak merubah hobi kita selama mubah, tapi mewarnainya agar sesuai syariat Allah Subhanahu wa Ta`ala. Tetaplah jadi beker yang fionable tapi taat aturan sesuai bimbingan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.