3c8f195e877786459c34d9110848a29f⚠️⛔️✋🏻📢 Kesalahan Lisan Menghalangi Keberkahan Ilmu
Imam al-Auza’i rahimahullah berkata:
“Apabila Allah hendak menghalangi hamba-Nya mendapatkan berkah ilmu, sungguh Dia akan meletakkan berbagai kesalahan pada lisannya. Saya benar-benar melihat mereka sebagai orang yang paling sedikit ilmunya.”
📚 Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 172
Ucapan ini merupakan peringatan keras bagi siapa pun yang menuntut ilmu. Ilmu bukan sekadar hafalan dan retorika, tetapi sebuah amanah besar yang harus dijaga dengan adab, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah. Keberkahan ilmu — yaitu manfaat yang terus mengalir dan membimbing kepada amal serta keselamatan — tidak otomatis diberikan hanya karena seseorang belajar dan menyampaikan.
Salah satu sebab terbesar hilangnya keberkahan ilmu adalah kesalahan lisan — berbicara tanpa ilmu, menyampaikan sesuatu yang tidak benar, tergesa-gesa dalam menjawab tanpa dalil, atau lebih parah lagi, berbicara dengan hawa nafsu dan kebodohan.
Imam al-Auza’i rahimahullah — seorang ulama besar dari kalangan tabi’ut tabi’in — menegaskan bahwa ketika Allah menghendaki untuk menghalangi hamba dari keberkahan ilmu, maka Allah timpakan padanya “al-maghalith”, yaitu berbagai kesalahan dalam ucapan. Lisannya menjadi tidak lurus, ucapannya membingungkan, bahkan menyesatkan. Ini adalah adzab sebelum adzab akhirat — yaitu terhalang dari cahaya ilmu yang seharusnya menuntunnya menuju Allah.
Perhatikan, al-Auza’i tidak mengatakan bahwa orang itu tidak memiliki ilmu sama sekali, tetapi ilmunya tidak berkah. Ia mungkin hafal banyak kitab, menguasai banyak istilah, namun ucapannya malah jadi sebab kerusakan: memecah umat, menyebarkan kebingungan, atau menjatuhkan kehormatan sesama penuntut ilmu. Maka beliau menyimpulkan: “Saya melihat mereka sebagai orang yang paling sedikit ilmunya”. Artinya, meski tampak berilmu, hakikatnya kosong dari ilmu yang bermanfaat.
📌 Apa Sebab Terjadinya Hal Ini?
Kurangnya rasa takut kepada Allah (taqwa). Ilmu yang tidak dibarengi rasa takut akan Allah akan menjadi sebab kesombongan dan kebinasaan.
Tidak menjaga lisan. Berbicara sembarangan tentang agama tanpa dalil dan adab adalah ciri orang yang Allah hinakan.
Menuntut ilmu hanya untuk kepentingan dunia, bukan untuk mencari wajah Allah.
📌 Bagaimana Menjaga Keberkahan Ilmu?
Perbaiki niat: Tuntut ilmu semata-mata untuk mencari ridha Allah dan memperbaiki diri.
Jaga lisan: Jangan berbicara kecuali dengan ilmu dan adab.
Tawadhu' dan takut salah: Jangan merasa paling benar, dan selalu rujuk pada ulama rabbani.
Perbanyak istighfar dan doa: Minta kepada Allah agar dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat dan lisan yang menyesatkan.
📌 Keberkahan ilmu bukan diukur dari banyaknya ucapan, panjangnya ceramah, atau ramainya pengikut. Keberkahan ilmu terlihat dari kemanfaatannya bagi diri dan orang lain, dan kemampuannya membimbing kepada ketaatan kepada Allah. Maka, berhati-hatilah dengan lisan. Bisa jadi justru lisan itulah yang menutup pintu keberkahan ilmu yang kita cari dengan susah payah.
Wallahu A'lam Bishawab